Minggu, 11 Oktober 2009

Top 5 Mistakes We Make Teaching Kids About Money


Top 5 Mistakes We Make Teaching Kids About Money
By Laura Rowley
(Yahoo; Parenting; Sunday, October 11, 2009

We all make stupid money mistakes. Find out if you're making bad money decisions with this advice from Kodak spokesperson and money expert Laura Rowley.

1. Becoming a Human ATM Machine
Give children an allowance and let them know what they have to pay for out of their own stash—whether it's the ice cream truck, the goodies in the $1 aisle at the discount store or that Scholastic book order form that comes home from school. This reduces nagging, allows them to develop math skills and learn from their mistakes. It's amazing to see how much more they value the things they paid for themselves.


2. Overlooking Every Day Lessons
Don't miss opportunities to discuss simple economics in every day settings. While grocery shopping, explain why it's smarter to choose the package that costs less per pound, or the more affordable generic brand; and why it makes sense to stock up when an item is on sale. Explain why savvy savings habits make sense: "By saving just $15 a week using the grocery store's loyalty cards and coupons, we'll have almost $800 at the end of the year to spend on something fun."

3. Not Involving Kids in Longer-Term Goals
Solid money management comes down to two things, planning ahead and making choices. If you're planning a vacation, talk to the kids about the budget: airfare, lodging and entertainment. Take a coffee can and label it the "Vacation Fund" and throw in your loose change at the end of the day. Take the coins to the bank and show the kids how the money is adding up; and how the bank will pay you interest for storing the cash in a savings account. Give them a specific budget for souvenirs—say $15—and suggest they increase it by earning cash for the trip through lemonade stands, dog sitting or lawn mowing.


4. Missing the Opportunity to Motivate Their Savings Habits
If your kids put money in the bank, match their contributions. I took my kids to our local bank branch when they were 8, 6 and 4 and opened savings accounts for all of them. I matched the money they deposited, using the opportunity to discuss how a 401(k) plan works and why someone should contribute up to the amount of the company match (free money!).


5. Not Explaining How Plastic Works
According to a study by Nellie Mae, the student loan firm, the average college freshman has $1,500 in credit card debt, and that figure doubles by the time they graduate. Some 56 percent of college seniors carry four or more credit cards. That's when the real trouble starts, because if teens lose the battle to understand and manage credit cards at 18, the damage can haunt them for years. An estimated 70 percent of employers check credit scores before they hire. Over time, a low credit score will suck tens of thousands of dollars out of your child's pocket when they seek financing for an auto or a home. Consider allowing a teen to practice with a pre-paid, reloadable debit card such as Visa Buxx. It has fewer fees than competing cards and features parental controls—such as setting a weekly cash limit. Parents can also get email alerts showing when and where a teen used the card, setting the stage for discussions about wise spending.


Sabtu, 03 Oktober 2009

Multiple Intelligences (MI)

Multiple Intelligences (MI)

Apakah Anak – Anak Cerdas? YA. Setiap Anak Cerdas

Kata “cerdas” seringkali dikaitkan dengan keberhasilan anak di sekolah, khususnya dalam kemampuan meraih prestasi akademik yang baik. Namun, hasil penelitian menunjukan bahwa keceradasan seorang anak tidak bisa diukur atau dinilai hanya dari akademik yang diperolehnya di sekolah.

Howard Gardner mengemukakan bahwa paling tidak ada 9 jenis kecerdasan dalam diri seorang anak, yaitu: Kecerdasan Linguistik, Visual Spasial, Logis Matematis, Musik, Intrapersonal, Interpersonal, Alam, Kinestetik, dan Eksistensialis. Setiap anak memliki 9 jenis kecerdasan tersebut, masing-masing dengan kadar dan kombinasi yang berbeda. Perpaduan beragam jenis kecerdasan inilah yang dinantinya akan berpengaruh besar dalam masa depan seorang anak.

Oleh sebab itu, penting bagi para Orang Tua dan para Pendidik untuk mengenali serta mengembangkan semua jenis kecerdasan anak sehingga masing-masing anak dapat bertumbuh secara optimal sesuai dengan potensi kecerdasan yang sudah Tuhan berikan dalam diri masing-masing anak secara khusus.

Mengenali serta Menggali Potensi Kecerdasan Anak

Menurut Gardner, dalam rentang usia 0-7 tahun, seorang anak berada dalam Tahap EKSPLORASI. Ini adalah masa yang sangat tepat untuk mengenali ragam kecerdasan yang menonjol melalui lingkungan yang kaya stimulasi. Pada usia ini, anak perlu dibebaskan untuk memilih jenis-jenis aktivitas yang disukainya sehingga baik anak maupun orang tua dan guru akhirnya dapat MENGENALI kombinasi kecerdasan anak yang cenderung menonjol / kuat maupun jenis-jenis kecerdasan mana yang kelihatannya kurang berkembang.

Manfaat yang diperoleh anak bila dia TAHU apa kelebihan serta kekurangannya adalah rasa percaya diri yang sehat. Berangkat dari potensi kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak, orang tua dan guru dapat bekerjasama untuk mengembangkan diri anak dengan lebih baik.

Yang perlu di hindari oleh orang tua maupun guru dalam tahap ini adalah memberikan judgment yang terlalu dini kepada anak, misalnya: “ Oh, anak saya pandai musik, jadi lebih baik saya melatih bidang musik saja supaya dia menjadi musikus”. Bukannya menggali seluruh potensi anak, sikap ini malah merugikan karena cenderung mempersempit biidang keahlian anak.

Oleh karena itu, yang perlu dilakukan oleh para orang tua dan guru selama periode EKSPLORASI ini adalah menyediakan lingkungan yang kondusif supaya seluruh jenis kecerdasan yang ada dalam diri anak dapat bertumbuh secara optimal.

Periode perkembangan berikutnya, disebut oleh Gardner sebagai Tahap SPESIALISASI (rentang usia 7-14 tahun), yaitu suatu masa di mana anak telah mampu mengembangkan keterampilan-keterampilan tertentu yang diminatinya hingga menjadi kompeten atau “ahli di bidangnya”. Apa yang berhasil dicapai oleh anak selama periode ini akan meningkatkan dan memantapkan rasa percaya dirinya yang sehat , sehingga dia siap memasuki periode perkembangan berikutnya.

Dalam tahap perkembangan yang ke-3 yang disebut sebagai Tahap SITENSIS, si anak sudah memasuki usia remaja. Dalam tahapan ini mereka sudah siap untuk mengaplikasikan kompetensinya dalam konteks dunia nyata. Ini adalah masa di mana mereka mulai belajar dan sudah dapat menerapkan kombinasi kecerdasannya dalam praktek hidup sehari-hari yang lebih kompleks. Mereka akan bertumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri, mampu mengatasi masalah hidup, serta dapat menerima serta mengembangkan dirinya sendiri.

Bagaimana Membantu Anak Mengoptimalkan kecerdasannya?

Hal umum yang sering terjadi selama ini adalah, bila anak memiliki kelemahan dalan satu bidang tertentu, maka orang tua dan guru akan menambah waktu, tenaga, serta segala daya upaya untuk berkutat dan terus-menerus berada dalam bidang tersebut.

Misalnya, bila ada anak TK dinilai kurang dalam keterampilan menulis (Kecerdasan Lingustik) maka dia akan diberi tambahan pelajaran / les menulis, bila perlu ditambah pekerjaan rumah dan tugas-tugas menulis lainnya. Contoh lain, bila anak SD dinilai kurang dalam pelajaran matematika, maka dia akan diberi tugas rumah dan soal-soal matematika lebih banyak serta lebih sering, bahkan mungkin mengikuti kursus matematika di luar jam pelajaran sekolah.

Berfokus pada KELEMAHAN anak untuk memperbaikinya justru cenderung untuk semakin memperkuat kelemahan itu sendiri dan membuat anak tersiksa secara mental. Akan lebih baik bila orang tua dan guru bekerjasama untuk memperbaiki kelemahan anak melalui KEUNGGULAN yang dimiliki si anak tersebut.

Bila anak TK dalam kasus di atas ternyata suka menggambar (Kecerdasaan Visual) misalnya maka orang tua dan guru dapat mengembangkan kegemaran untuk menulis melalui aktivitas visual. Bila anak SD dalam kasus di atas ternyata suka olah raga (Kecerdasan Kinestetik / Tubuh), maka kecintaan akan materi matematika bisa di kembangkan melalui kegiatan atau soal-soal yang terkait dengan dunia olah raga.

“Belajar akan efektif kalau Anda dalam keadaan FUN”, demikian ungkap Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mereka yang berjudul Revolusi Cara Belajar. Jadi, daripada berpusat pada ketidakmampuan anak, yang biasanya diikuti pula oleh perasaan tidak suka akan materi yang tidak dapat dikuasai tersebut, lebih baik memanfaatkan kekuatan / potensi anak untuk memperbaiki kekurangannya.

Pelayanan Anak dengan filosofi Multiple Intelligences (MI)

Periode EKSPLORASI

Penting bagi anak untuk menikmati area bermain yang memungkinkan mereka untuk mencoba segala macam aktivitas yang mewakili beragam jenis kecerdasan.

Tugas orang tua dan guru adalah menjadi Obsever serta teman bermain anak, bukan sebagai orang dewasa yang tahu segalanya, yang mendikte cara-cara bermain, atau yang menentukan jenis mainan anak.

Penulis sementara berfokus pada apa yang disebut pada periode ini, yakni periode eksplorasi. Dengan sumber daya YGTI yang ada kami mencoba membuka sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Mutiaraku dibawah Manajemen Bogor Edu Center (BEC). Salah satu tujuan Lembaga ini adalah membantu para orang tua agar MENGENAL sejak dini Kemampuan dan Kelemahan anak-anak mereka. Sehingga kami bisa memberikan Penjelasan, Penerapan, dan juga jalan keluar secara melalui pendekatan ilmiah dan empirik.

Periode SPESIALISASI

Anak-anak akan menjadi lebih antutias belajar saat mereka diberi pilihan untuk menentukan sendiri dengan cara apa mereka akan memperdalam materi pelajaran yang telah diperolehnya.

Bogor Edu Center yang menggunakan filosofi MI akan memperlihatkan suasana kelas yang hidup dengan anak-anak aktif belajar melalui berbagai macam kegiatan / cara. Guru MI lebih berperan sebagai desainer aktivitas, manager informasi, dan fasilitator daripada sebagai penceramah. Pembelajaran ala MI dinyatakan berhasil apabila anak-anak terlibat aktif dalam berbagai pilihan aktivitas belajar yang dilakukannya secara mandiri namun masing-masing mengarah pada tujuan pembelajaran yang sama.

Periode SINTESIS

Yang paling ideal bagi anak remaja adalah dengan melibatkan mereka dalam sebuah proyek. Di mana setiap anggota tim memiliki tugas serta tanggung jawab masing-masing yang saling terkait, sehingga selain belajar untuk mengaplikasi keahliannya, mereka juga belajar untuk saling berinteraksi dan bekerjasama sepertinya layaknya kehidupan di dunia kerja dan masyarakat luas. Dalam masa ini, perlu ditekankan pentingnya penerapan Practical Interlligences, yaitu kemampuan untuk menghadapi serta menyelesaikan masalah hidup secara nyata.

Filosofi Multiple Interlligences memberi sumbangsih yang nyata dalam proses pendidikan anak secara utuh. Di mana seorang anak tidak lagi dinilai berdasarkan jenis-jenis tes tertentu ynag kurang manusiawi, melainkan dihargai keunikannya serta diberi kesempatan untuk bertumbuh serta berkembang sesuai dengan potensi kecerdasan yang sudah Tuhan titipkan dalam diri mereka masing-masing.

Biarlah bunga mawar tumbuh menjadi bunga mawar yang cantik, biarlah bunga melati tumbuh menjadi bunga melati yang harum, dan bunga matahari tumbuh menjadi bunga matahari yang anggun. Biarlah masing-masing anak kita boleh tumbuh menjadi seperti yang Tuhan rencanakan bagi mereka masing-masing. Dan biarlah kita sebagai orang tua dan guru boleh menjadi tanah yang subur bagi anak-anak kita untuk bertumbuh.

8 Jenis Kecerdasan menurut Howard Gardner

1. Kecerdasan Linguistik: Word Smart

Kecerdasan Linguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik untuk mempengaruhi maupun memanipulasi. Dalam kehidupan sehari-hari kecerdasan linguistik bermanfaat untuk: berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Pekerjaan yang mengutamakan kecerdasan ini antara lain: guru, orator, bintang film, presenter TV pengacara, penulis, dsb.

2. Kecerdasan Logis-Matematis: Number Smart

Kecerdasan Logis-matematis melibatkan keterampilan mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika atau akal sehat. Dalam kehidupan sehari-hari kecerdasan ini bermanfaat untuk: menganalisa laporan keuangan memahami perhitungan utang nasional, atau mencerna laporan sebuah penelitian. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini antara lain: akuntan pajak, programmer, ahli matematika, ilmuwan, dsb.

3. Kecerdasan Spasial: Picture Smart

Kecerdasan Spasial melibatkan kemampuan seseorang untuk memvisualisasikan gambar di dalam kepala (dibayangkan) atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Kita membutuhkan kecerdasan ini dalam hidup sehari-hari juga, misalnya: saat mnghias ruma atau merancang taman, menggambar atau melukis, menikmati karya seni, dsb. Pekerjaan yang mengutamakan keserdasan spasial antara lain: arsitek, pematung / pemahat, penemu,designer,dsb.

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani: Body Smart

Kecerdasan Kinestik-Jasmani adalah kecerdasan seluruh tubuh dan juga kecerdasan taangan. Dalam dunia sehari-hari kita sangat memerlukan kecerdasan yang satu ini, misalnya: membuka tutup botol, memasang lampu di rumah, memperbaiki mobil, olahraga, dansa, dsb. Jenis pekerjaan yang menuntut kecerdasan ini antara lain: atlet, penari, pemain pantonim, aktor, penjahiit, ahli bedah, dsb.

5. Kecerdasan Musikal: Music Smart

Kecerdasan Musikal melibatkan kemampuan menyanyikan lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan akan irama, atau sekadar menikmati musik.

Dalam keseharian, kita mendapatmanfaat dari kecerdasan ini dalam banyal hal, misalnya: saat kita menyanyi, memainkan alat musik, menikmati musik di TV / radio,dsb. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini antara lain: penyanyi, pianis / organis, disc jokey (DJ), teknisi suara, tukang stem piano, dll.

6. Kecerdasan Antarpribadi: People Smart

Kecerdasan Antarpribadi melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pribadi, keluarga, dan pekerjaan, kecerdasan ini dinilai mutlak diperlukan dan seringkali disebut sebagai “yang lebih penting” dari kecerdasan lainnya untuk dapat sukses dalam hidup. Kecerdasan antarpribadi ini memanipulasi, kemampuan “membaca orang”, kemampuan berempati, kemampuan berteman, dsb. Segala jenis pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain pastilah membutuhkan kecerdasan ini, terutama: public figure, pemimpin, guru, konselor, dll.

7. Kecerdasan Intrapribadi: Self Smart

Kecerdasan Intrapribadi adalah kecerdasan memahami diri sendiri, kecerdasan untuk mengetahui “ siapa diri saya sebenarnya” untuk mengetahui “apa kekuatan dan kelemahan saya”. Ini juga merupakan kecerdasan untuk bisa merenungkan tujuan hidup sendiri dan untuk mempercayai diri sendiri. Pekerjaan yang menuntut kecerdasan intrapribadi antara lain: wirausaha, konselor, terapis, dll.

8. Kecerdasan Naturalis: Nature Smart

Kecerdasan Naturalis melibatkan kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam di sekitar kita. Dalam hidup sehari-hari kita membutuhkan kecerdasan ini untuk: berkebun, berkemah, atau melakukan proyek ekologi. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan Naturalis antara lain: ahli biologi, dokter hewan, dll.

Tentang Buah Hati Kita

Tentang Buah Hati Kita


Anak merupakan anugerah yang Tuhan berikan bagi satu keluarga dan setiap orang tua harus menyadari bahwa berkat Tuhan ini di didik menurut jalan yang Tuhan kehendaki.

Dalam mendidik anak kita melakukan :

1. Menyampaikan pengajaran, norma-norma, dan nilai-nilai hidup, aturan, hukum, ajaran agama, maupun cerita-cerita serta pengalaman yang mengandung didikan, mengajarkan pengenalan yang baik akan Tuhan

2. Mentoring terhadap pertumbuhan anak.

Tujuan Mendidik anak

1. Anak mengetahui apa yang baik dan yang tidak baik. Pengajaran, peraturan dan tata tertib berfungsi sebagai batasan norma, etika dan sopan santun.

2. Sepanjang masa hidupnya anak tidak akan menyimpang dari rencana dan kehendak Tuhan atas dirinya.

III. HAL-HAL YANG PERLU DI PAHAMI

1. Pertumbuhan, Penampilan dan Kemampuan Fisik yang Berbeda-beda Setiap orang tua harus bisa menerima anak sebagaimana adanya dan menyesuaikan cara mendidik anak dengan kondisi anak tersebut.

Contoh : Anak yang fisiknya lemah jangan dipaksa melakukan kegiatan fisik yang berat.

2. Pertumbuhan dan Kemampuan Mental yang Berbeda-beda

Setiap anak memiliki daya tangkap, daya pikir dan kemampuan komunikasi yang berbeda-beda. Orang tua harus menyesuaikan diri dengan tingkat kecerdasan anak masing-masing.

3. Sifat Dasar ( temperamen ) yang Berbeda-beda

Setiap anak memilki temperamen yang berbeda, sehingga cara mendidik mereka juga akan berbeda-beda.

4. Bakat dan Talenta yang Berbeda-beda

Orang tua harus mengenali dan membimbing anak sesuai dengan potensi, bakat dan talenta yang Tuhan berikan kepada setiap anak

5. Jalan Hidup yang Berbeda-beda

Orang tua janngan memaksakan keinginan atau kehendak dan cita-citanya sendiri kepada anaknya, karena anak harus bertumbuh dan berjalan sesuai dengan jalan kehidupan yang Tuhan kehendaki baginya.

IV. PENGARUH URUTAN KELAHIRAN TERHADAP KARAKTER ANAK

Urutan kelahiran mempunyai kecenderungan tertentu dan karateristik yang umum, tapi kunci yang benar dari semua ini adalah adanya aliran hubungan yang dinamis diantara anggota keluarga.

1. Karakteristik Anak Sulung

Sifat-sifat Khas

Kekuatan

Kelemahan

Kemampuan memimpin

Bertanggung jawab

Agresif

Agresif

Menghormati perintah

Bertindak semena-mena, tidak peka dan cenderung egois

Selalu mengalah

Koperatif

Dapat dimanfaatkan, diganggu, di gertak

Perfeksionist

Selalu mengerjakan sesuatu dengan benar

Cenderung menkritik diri merek sendiri maupun orang lain

Terorganisir

Membuat segalanya terkendali

Tidak nyaman dengan urutan proses, dan aturan-aturan

Penggerak

Ambisius

Menempatkan diri dan timnya dibawah ketegangan dan tekanan

Pembuat daftar

Menetapkan sasaran dan terencana

Terlalu fokus kesatu pekerjaan

Logis

Pemikiran yang tepat

Percaya bahwa dirinya selalu benar

terpelajar

Cenderung menjadi kutu buku

Fokus kepada fakta, dan tidak ada sense of humor

2. Karakteristik Anak Tengah

Sifat-sifat Khas

Kekuatan

Kelemahan

Bertumbuh merasa tertekan dan tidak menentu

Belajar untuk tidak jadi manja

Dapat menjadi pemberontak

Harapan-harapan yang masuk akal

Karena hidup tidak selalu adil, merka tidak manja, realistis

Dapat menjadi pencuriga, sinis, bahkan pahit

Sosial pemberani

Hubungan, untuk mempertahankan diri

Teman-teman dapat menjadi terlalu penting

Pemikir yang mandiri

Siap melakuakn hal-hal dengan berbeda. Pengambil resiko, melakukan tindakan dengan cara sendiri

Dapat menjadi kepala batu, keras kepala, tidak mau bekerja sama

Berkompromi

Ahli bernegosiasi

Dapat berusaha mendapatkan kedamaian dengan harga apapun

Diplomatis

Pembawa damai

Menjauhi konfrontasi

Suka ber-rahasia

Dapat di percaya menjaga rahasia

Gagal untuk mengakui ketika mereka membutuhkan pertolongan

3. Karakterstik Anak Bungsu

Sifat-sifat Khas

Kekuatan

Kelemahan

Pemikat

Disukai orang, menyenangkan

Penipu

Berorientasi pada orang-orang

Membaca orang – tahu bagaimana untuk berhubungan dan bekerja sama

Dapat terlihat tidak disiplin, cenderung terlalu banyak berbicara

Ulet

Ketekunan tanpa lelah, tidak mengenal tidak sebagai jawaban

Dapat menekan terlalu keras karena mereka melihat segala sesuatu hanya menuntut mereka

Penuh kasih sayang dan menarik hati

Perhatian, mudah dicintai

Mudah tertipu

Tidak rumit

Tampil santai, ikhlas dan dapat dipercaya

Sedikit pelupa, keluar dari fokus

Pencari perhatian

Menghibur, dan lucu

Dapat tampil egosentris

4. Karakteristik Anak Tunggal

Sifat-sifat Khas

Kekuatan

Kelemahan

Percaya diri

Tidak takut untuk mengambil keputusan

Dapat menjadi egosentris

Perfeksionist

Selalu mengerjakan hal-hal dengan benar, seksama dan rapi

Tidak pernah puas

Terorganisasi

Keteraturan dalam segala hal

Terlalu khawatir mengenai aturan, proses dan hhukum-hukum

Pengendali

Ambisius

Terlalu menekan diri sendiri atau rekan sekerja

Pembuat daftar

Emnetapkan sasaran-sasaran dan mencapainya

Dapat terkurung, kehilangan gambaran besar

Logis

Pemikir yang tepat

Percaya diri selalu benar

Terpelajar

Cenderung menjadi kutu buku

Fokus kepada pekerjaan, bukan situasi keseluruhan

V. TINGKAT PERTUMBUHAN ANAK

Kelompok

Fisik

Sosial

Mental

Emosi

1 – 3 tahun

Pertumbuhan pesat dan tidak merata, mulai melatih otot-otot besar, mulai belajar mengendalikan gerakan.

Egosentris, aman dalam lingkungan keluarga, dekat dengan ibunya, belajar bermain dengan anak sebaya. Membutuhkan waktu dan tempat yang aman untuk bermain.

Daya konsentrasi terbatas. Perbendaharaan kata-kata masih terbatas dan belum pasti mengerti. Belajar melalui semua panca indera. Punya rasa ingin tahu. Mulai mengenal angka.

Mudah di bimbing, mudah percaya, mudah merasa takut dan cemburu.

4 – 5 tahun

Lebih giat berlatih mengkoordinasikan gerak tubuhnya, mulai berlari, memanjat, melompat. Senang mendapati dirinya dapat melakukan sendiri berbagai gerakan

Melihat figur ayah sebagai pemberi solusi yang serba bisa, dan figur ibu sebagai pemberi rasa nyaman. Lebih senang bergaul dengan kakak daripada dengan adik.

Mulai mengembangkan daya khayalnya, merindukan pengalaman baru, suka meniru. Perbendaharaan kata mencapai 1500 kata, menhitung sampai 30.

Mudah menangis, cepat tertawa. Membutuhkan penjelasan akan hal-hal baru agar tidak berpersepsi negatif.

6 – 8 tahun

Mengalami perubahan pesat, pergantian gigi, detak jantung lebih cepat, aktif sekali, tertarik kepada banyak kegiatan, mulai mengurus diri sendiri

Masuk sekolah, perubahan yang mengandung tantangan, keluar dari lingkungan yang aman.

Belajar menulis dan membaca, bangga sekali dengan itu, haus akan cerita-cerita.

Mengadu kepada ibunya untuk pengalaman –pengalaman yang kuranng nyaman baginya.

9 – 11 tahun

Tubuh kuat dan seimbang, suka mengembara, menyelidiki hal-hal baru, terampil mengurus diri sendiri

Kadang-kadang berbeda pendapat dengan guru, menilai orang lain, beragumen membela diri.

Daya konsentrasi yang baik, mempunyai banyak minat, memiliki hobi.

Jarang takut, kurang sabar, cepat gusar dan kecewa jika gagal lakukan sesuatu.

VI. CARA MENDIDIK ANAK

Melalui :

1. Bimbingan dan Ajaran

a. Bimbingan yang Benar

Mendidik anak di mulai dengan memberikan bimbingan yang benar, misalnya : mengenai kebiasaan sejak bangun tidur, etika di meja makan, dan lain-lain agar anak benar-benar mengerti bagaimana melakukannya dengan baik.

b. Belajar Bertanggungjawab Sedini Mungkin

Tanggungjawab harus di tanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Misalnya meletakkan sepatu di tempatnya, merapikan mainannya sendiri, dan lain-lain.

c. Peraturan dan Ajaran

Menetapkan peraturan dan ketentuan serta menyampaikan ajaran adalah penting untuk menanamkan disiplin anak dalam keluarga.

d. Keteladanan

Orang tua harus menjadi teladan sehingga anak mengikuti apa yang di lakukan orang tuanya.

Keteladanan lebih berpengaruh daripada sekedar perkataan dan merupakan cara yang efektif untuk mengubah dan membentuk sampai dalm kehidupan selanjutnya.

2. Pendisiplinan

a. Semua Pendidikan Membutuhakn Disiplin

Bila tidak ada disiplin yang dapat dijalankan dengan konsisten, kehidupan anak dapat di ombang-ambingkan oleh perubahan perasaan dan dorongan hati sesaat, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain.

b. Pendisiplinan adalah Bagian dari Pendidikan

Ajaran atau peraturan tidak akan efektif bila tidak di patuhi. Untuk itu perlu tindakan pendisiplinan bagi setiap pelanggaran.

c. Fungsi dan Tujuan Pendisiplinan

- Untuk menyadarkan anak akan kesalahannya

- Untuk membentuk karakter Kristus

- Menanamkan penundukan diri pada peraturan dan otoritas

- Melatih anak untuk hidup dengan bertanggung jawab

d. Bentuk Pendisiplinan

- Sesuai firman Tuhan

Ada didikan yang keras, ada didikan yang lunak

- Pendisiplinan bagi anak perempuan berbeda dengan anak laki-laki

Karena ada perbedaan respon dan emosi

- Pendisiplinan harus sesuai dengan kesalahannya

3. Fokus Didikan Harus Tetap Kepada Anak

Jangan menghhukum/marah dengan mengatakan :

“Papa malu kamu berbuat begitu!”,

“Kamu itu merusak martabat keluarga kita!”.

VII. PENGHARGAAN

Hadiah atau reward, merupakan cara yang baik setelah anak di beri penghukuman dan menyadari kesalahannya atau serelah anak melakuakn tugas-tugasnya dengan baik.

1. Kasih

Didikan/ajaran kepada anak ditujukan kepada pengendalian tingkah laku luar anak, tetapi belum tentu dapat mengubahkan kehidupan batin anak.

Untuk itu orang tua perlu memberikan lebih banyak kasih dengan tertib kepada anak.

2. Pujian

Melakukan pujian yang merupakan satu bentuj imbalan atau ‘reward’ yang wajar sebagai ungkapan terimakasih dan perhatian orang tua.

3. Hadiah

Hadiah yang di janjikan kepada anak untuk memotivasi dirinya merupakan pengaharapan yang wajar dan ‘fair’, ini merupakan penghargaan dan wujud kasih yang nyata.

VIII. ANAK-ANAK DIMATA TUHAN YESUS

1. Tanda Kemenangan

Pada zaman raja Salomo, anak panah adalah senjata yang paling di takuti, siapa yang terbaik menggunakan panah, dialah yang palinga banyak membunuh musuh.

2. Mudah Percaya dan Mudah Sesat

Anak kecil itu adalah contoh dari iman.

Merka percaya tanpa melihat dan merasakannya, cukup di beritahu, mereka langsung percaya.

3. Berbelas Kasihan

Melihat banyak orang menderita kelaparan, hati anak kecil gampang berbelas kasihan, tanpa ragu anak kecil tersebut, yang tidak di tulis namanya, langsung memberikan bekal makanan yang dibawanya kepada Tuhan Yesus.

4. Menggambarkan Karakter Surgawi

Banyak karakter anak kecil yang membuat semua orang tepesona, beberapa diantaranya adalah :

- Tidak pusing dengan kehidupannya

- Tidak sombong

- Mudah mengampuni

- Tulus dan suci

- Menyenangakn hati bapa (lucu dan ceria)

IX. TIGA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANAK MUDA

Ada tiga hal yang mempengaruhi kehidupan anak muda, dan faktor inilah yang menjadi kekuatan atau sebaliknya menjadi penyebab terjadinya krisis pada anak muda. Faktor-faktor itu ialah :

A. Keluarga

1. Keluarga yang utuh : diman kedua orang tua mereka masih ada

Ada empat macam tipe keluarga yang utuh :

a. Keluarga yang disiplin tinggi dan kurang kasih :

· Keadaan rumah tangga sangat tegang dan tidak rileks

· Sering diwarnai teguran keras bahkan pukulanpun tidak terelakkan

· Anak yang berada dalam keluarga ini sering mengalami stress

b. Keluarga yang displin rendah dan kasih besar

Keluarga tipe ini dapat di jumpai dalam keluarga Imam Eli

Keluarga ini jarang ada teguran dan apa saja yang diminta anak, orang tua selalu memberikannya tanpa seleksi.

c. Keluarga yang disiplin kurang dan kasih kurang

· Biasanya anak ini tidak di kehendaki lahir dalam keluarga tersebut.

· Anak merasa tertolak, minder merasa tidak berarti.

d. Keluarga yang baik, kasih dan disiplinnya seimbang

· Orang tua menjadi teladan sebagai pelaku firman buat anak-anaknya.

· Aturan main dalam keluarganya jelas.

· Anak dalam keluargaini akan bertumbuh baik tubuh, jiwa dan rohnya

2. Keluarga yang tidak utuh

Keluarga ini adalah biasanya keluarga yang :

a. Keluarga yang broken home ; adalah keluarga yang hanya di asuh oleh bapak atau ibu saja karena mereka telah berpisah.

b. Keluarga yang salah satu telah meninggal.

B. Sekolah

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi generasi muda dari sekolah adalah :

· Sistem di sekolah (Kristen dan no Kristen)

· Pengaruh guru (baik, kejam, sadis dan lain-lain)

· Pengaruh teman sekolah (baik, nakal dan lain-lain)

· Sekkolah formal dan non formal.

C. Lingkungan

Pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik.

Siapa bergaul denngan orang bijak akan menjadi bijak, siapa bergaul dengan orang bebal menjadi malang.